Minggu, 11 Mei 2014

Bingkisan Cinta untuk Bunda


Senja menyambut, warna kuning cahaya matahari bergabung dengan langit yang menggelap. Perpaduan warna yang begitu elok, sangat menyenangkan jika di pandang.
Dana kembali berjalan selangkah demi selangkah menyusuri jalan di sepanjang di Sampangan. Sembari berjalan ia menoleh ke kanan dan ke kiri dan ke depan. Ia berjalan, sesekali berhenti ketika ia menjumpai mall atau toko serba ada. Ia ragu, ia ingin masuk ke dalamnya tapi belum tahu apa yang akan ia beli.
Hari ini tanggal 27 Maret. Hari ini adalah hari ulang tahun ibu Dana yang ke-46. Dana sudah berjanji, kalau ia akan memberikan kado spesial untuk ibunya. Ia belum pernah sekalipun memberikan kado untuk ibunya. Sudah dari jauh hari Dana mengumpulkan uang untuk memberikan kado ibunya. Sampai hari ini tanggal 26 Maret ia mendapatkan uang Rp 300.000,00. Namun, Dana bingung, apa yang hendak ia berikan pada ibunya. Ia berjalan lagi tanpa tujuan.
Dana berhenti sejenak, ia memutuskan untuk duduk sebentar di halte. Ia agak lama duduk di sana, karena barangkali di haltle dapa memberikannya sebuah insprasi. Satu menit, dua menit, sampai setengah jam Dana masih bingung.
Banyak orang yang lalu lalang melewati halte itu, apalagi ini hari libur. Jadi kebanyakan orang berpergian untuk berwisata. Di antara lalu lalang orang-orang yang berjalan dan berkendara, Dana  melihat  seorang anak kecil sedang menangis tersedu. Bajunya kumal dan rambutnya acak-acakan dan ia tidak memakai alas kaki, kakinya begitu kelam dan kasar. Dana mencoba mendekatinya.
“ Dik, mengapa kau menangis?” tanya  Dana. Anak itu tetap menangis dan tidak menghiraukan pertanyaan Dana. “ Dik, namamu siapa?” sambung Dana lagi. Anak itu mulai mengangakat mukanya. Anak itu mengusap air matanya dengan tangan hitam berkuku panjang dan hitam. “ Aku, Indra kak, kalau kakak?” jawab Indra polos. “ Aku Dana, kalau boleh tahu mengapa adik menangis?”
Kemudian Indra menceritakan pada Dana. Indra menangis karena ia telah kehilangan uang. Indra diminta ibunya untuk pergi membelikan obat. Namun sekarang, uangnya hilang. Ia sudah mencari ke sana kemari namun tak jua ia temukan.
“Ibuku sedang sakit kak, dan uang itu untuk memberi obat untuk ibu, aku ingin ibu lekas sembuh” kata Indra. “ Memang ibumu sakit apa?” Dana penasaran. “ Ibu demam dan terus menggigil” jawab Indra. Mendengar cerita adik kecil itu Dana teringat akan ibunya.Dana tak bisa membayangkan jika ibu Dana sakit,.
Dana menyeka air matanya yang menetes di pipi, kemudian ia mengambil dompetnya di tas, ia mengeluarkan uang dari dompetnya. Ia mengulurkannya kepada Indra. Semula Indra menolak, namun Dana menyelipkan uangnya di saku Indra. “ Semoga ibumu lekas sembuh Indra, salam untuk ibumu” meninggalkan Indra.
Dalam perjalanan mencari kado Dana terus teringat Indra dan ibunya, betapa kasihan mereka. Dana pun terus mengucap syukur karena ia dan ibunya masih diberi nikmat sehat oleh Allah. Belum lama Dana berjalan, azan asar sudah berkumandang. Dana segera berjalan menuju Masjid terdekat. Setelah salat Dana kembali melanjutkan perjalanannya mencari kado untuk sang ibu tercinta.
Dana berjalan menuju ke paragon barangkali di sana ada sesuatu yang cocok untuk ibunya. Ia berjalan dengan langkah yang agak cepat karena hari sudah bertambah sore dan sebentar lagi malam. Tiba-tiba, bruuuuuuk , ia terjatuh karena ia terlalu cepat berjalan. Dana meringis kesakitan menahan laranya.
“ Kau tidak apa-apa?” kata seorang laki-laki sebaya dengan Dana sambil mengulurkan tangannya. “Tidak apa-apa hanya tersandung, hee..” jawab Dana malu-malu. “Oh, makanya lain kali hati-hati, sepertinya terburu-buru sekali mas?”. “Iya, saya ingin segera membelikan kado untuk ibu saya” Dana tersenyum. “Dan kau mau kemana?”. “Seperti yang kau lihat, aku sedang mengumpulkan botol-botol dan barang bekas yang dibuang orang-orang” jawab Si pemulung. “ Untuk, apa kau mengumpulakan itu?”
Itulah pekerjaan sampingan si pemulung kecil, mengumpulkan botol dan segala barang bekas untuk ia jual ke pengepul. Agar bisa jadi uang untuk uang saku sekolahnya dan membayar sedikit keperluan sekolah. Mendengar cerita si pemulung itu Dana semakin sedih, miris ia mendengarnya. Betapa banyak orang di luar sana yang kekurangan, namun mereka masih tegar. Sedang Dana kadang masih suka boros dengan membeli hal-hal yang tidak perlu.
 Dana mengambil tasnya lagi dan mengeluarkan dompetnya dan menarik selembar lagi dalam dompetnya uang Rp 100.000,00 kemudian ia berikan kepada si pemulung tadi. Pemulung tadi sangat berterima kasih pada Dana. Dana merasa sangat senang ia bisa membantu orang yang membutuhkan. Di perempatan jalan sebuah salam “Assalamu’alaykum” menjadi pemisah mereka.
Dana mengucapkan syukur Alhamdulillah, betapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan. Dana melanjutkan perjalanannya namun kali ini ia berjalan lambat dengan kaki yang terluka, ia menahan lukanya. Baginya luka itu hanya suatu yang kecil yang ia hadapi dibandingkan dua orang yang ia jumpai tadi.
Waktu semakin sore. Dana bingung, jika ia ke paragon mungkin ia akan sampai di rumah tengah malam. Uangnya pun sekarang tinggal Rp 100.000,00. Dana duduk sejenak sambil menghela napas sambil mengistirahatkan kakinya yang terluka. Belum beberapa lama ia duduk, tiba-tiba ide datang dari otaknya, setelah ia melihat toko buku di depannnya. Ia menuju sebuah toko buku. Dana mengambil sebuah Al-quran terjemahan kecil dengan sampul sangat cantik. Ia memutuskan untuk membeli Al-quran itu untuk ibunya. Kemudian ia segera pulang.

Pukul 02.30, setelah ibu Dana menunaikan salat tahajud, Dana menghampiri ibunya. Dana menyalami ibunya. Kemudian ia memberikan Al-quran dengan tanpa di bungkus seperti kado-kado semestinya. “Ibu, selamat ulang tahun, Dana cinta  ibu karena Allah”. Dengan air mata di matanya. “ Ibu Dana tersenyum sambil menangis “ini begitu istimewa anakku, dan semoga Allah mencintaimu Dana, karena Dana telah mencintai ibu karena Allah”.