Senin, 02 September 2013

Layangan


Telapak kaki-kaki mungil
Langkah-langkah mungil
Melewati jalan setapak
Di pematang sawah
Dengan kaki yang telanjang
Berlari-lari, berkubang menyusul si pembajak
Menarik-narik tali bersangkut di pepohonan yang meranggas
Angin memang sepoi
Bermain layangan sore hari
Ikal terus diikal
Ulur dan ulur
Terbang menjulang
Buntut layangan bergoyang-goyang bersenandung dengan hembusan angin
Layang pun menjulang. Julang dan julang
Si anak sawah bermain layangan

Sabtu, 31 Agustus 2013

Pintaku untukmu, Bu


Tetaplah di sini
Bu, di sini di gubung tempat ibu membesarkanku
Berhentilah
Dan jangan pergi, setapak demi setapak untuk meninggalkanku
Ini bukan rajukanku ibu
Karena aku tak mau merajuk
Ini permintaanku ibu
Temani aku bu, bersama menghadapi dunia ini
Temani dengan kehangatanmu
Aku hanya tak bisa bayangkan
Jika ku tak mampu menatap pesona cahaya di wajahmu
Suara yang melelapkan
Genggaman tangan yang menenangkan
Aku tak dapat bersuara sedikitpun
Apa yang harus ku ungkapkan untukmu
Ku tersenyum
Untuk gantikan kata itu
Dan ibu rengkuhlah aku dan sentuhlah jemariku dengan kelembutan tanganmu
Hingga aku mampu ungkapkan
“Aku sayang ibu karena Allah”

25 Agustus 2013
Alhamdulillah Allah, Engkau telah menitipkan kasih sayangmu yang besar untukku  lewat ibu. Aku cinta Allah.


Jumat, 30 Agustus 2013

Sahabat Kecilku


Hai sahabat kecilku
Selamat bertemu lagi
Lama sudah tak jumpaimu
Setelah kita jauh langkahkan kaki
Demi cita kita
Sedikit cerita tentang pengalamanmu mungkin bahagiakanku
Hai sahabat kecilku
Bagaimana kabar keluarga kecilmu
Dan cita-citamu kini?
dan sedihku, dan sapamu tak ada padaku
menjawab kesedihanku ini
sakitlah ini
jika kau di situ tapi tak kau jawabku
lebih baik aku kenang sendiri momentum itu
kenangan kita dan cita kita
wahai sahabat kecilku…

Kamis, 22 Agustus 2013

Welcoming Party



Malam itu setelah isya aku dan temanku Riska berangkat menuju kampus untuk mengikuti “Welcoming Party yang diadakan oleh panitia PPA 2012. Kami para mahasiswa baru dianjurkan memakai pakaian layaknya rakyat jelata.
Saya dan Riska ke kempus naik sepeda, yang kami pinjam dari Asrama. Kami bersepeda ke kampus lewat gerbang utama unnes. Perjalananya sungguh melelahkan. 10 menit kira-kira saya sampai di gerbang utama unnes. Dan sesampainya disana, waw Astaghfirullah ternyata gerbangnya di kunci. Kami bingung harus lewat mana. Balik lagi tidak mungkin. Aku berjalan sedikit ke kanan. Dan Alhamdulillah ada jalan kecil di sebelah gerbang utama. Akhirnya kami lewat melalui jalan itu. Sepeda itu kami angkat karena jalan itu tak memungkinkan untuk kami lewati dengan sepeda.
Setelah itu kami langsung menuju B6 dengan tergesa-gesa. Setelah sampai di b6. Subahanallah ramai sekali. Banyak teman-teman saya yang benar-benar mirip dengan rakyat jelata. Tak beberapa lama saya duduk di depan b6, welcoming party di mulai. Kami dibariskan sesuai dengan kelompok PPA kemudian kami dipersilahkan masuk ke b6. Kami masuk ke b6 melewati sebuah gua kecil yang terbuat dari kertas semen yang tampak indah. Dan setelah sampai di B6. Waww mirip sekali dengan apa yang saya lihat ditelevisi. Lampun sorotnya begitu banyak dengan warnya yang terus berganti-ganti. Terdengar juga alunan musik yang kurang enak untuk didengar telinga saya.
Acara terus berlangsung, namun saya kurang menikmatinya karena tempat duduk begitu sempit. Pukul 23.30 saya dan Riska memohon izin kepada panitia PPA, untuk pulang terlebih dahulu. Mereka tidak mengizinkan namun kami tetap pulang.
Kami pulang melewat gerbang utama lagi sebab tampaknya lebih dekat lewat gerbang utama. Memang lebih dekat namun medannya sangat mengerikan. Gelap, banyak pohon besar danjalanya pun sepi, sempat tersiar kabar di sana juga ada penjarah. Terlebih dalam Perjanan pulang. Riska menceritakan bahwa disebelah pohon dekat gang ada kuburan. Wa saya takut. Kenapa Riska menceritakan itu. Aku bersepeda begitu lambat karena saya merasa lelah. Bahkan sepedanya lebih banyak  saya tuntun.
Tiba-tiba di gang dekat pohon . Riska memanggil saya” Ir,ir”. Spontan saya lari dengan menuntun sepeda saya. Saya tidak menoleh tinggalkan saja Riska saya sangat takut saat itu. Pasti terjadi sesuatu di belakang.  Riska memanggil saya lagi “ Ir, tunggu ban saya kempes”. Saya menoleh “haa?, kenapa tak bilang dari tadi oo”. Riska “ Kamu lari kok dipanggil bukannya mendekat”.

Selasa, 20 Agustus 2013

Sekejap


Sendat
Lenyap sekejap
Kiranya aku sekejap
Takkan semangat baja kali ini
Luluh lantak hangus teredam api keseganan
 kugugat agar  berhasrat
Ku angkat segan
Lapisi baja
Kali ini saja tetap


kudu semangat ^_^

3 Mei 2013