Kamis, 22 Agustus 2013

Welcoming Party



Malam itu setelah isya aku dan temanku Riska berangkat menuju kampus untuk mengikuti “Welcoming Party yang diadakan oleh panitia PPA 2012. Kami para mahasiswa baru dianjurkan memakai pakaian layaknya rakyat jelata.
Saya dan Riska ke kempus naik sepeda, yang kami pinjam dari Asrama. Kami bersepeda ke kampus lewat gerbang utama unnes. Perjalananya sungguh melelahkan. 10 menit kira-kira saya sampai di gerbang utama unnes. Dan sesampainya disana, waw Astaghfirullah ternyata gerbangnya di kunci. Kami bingung harus lewat mana. Balik lagi tidak mungkin. Aku berjalan sedikit ke kanan. Dan Alhamdulillah ada jalan kecil di sebelah gerbang utama. Akhirnya kami lewat melalui jalan itu. Sepeda itu kami angkat karena jalan itu tak memungkinkan untuk kami lewati dengan sepeda.
Setelah itu kami langsung menuju B6 dengan tergesa-gesa. Setelah sampai di b6. Subahanallah ramai sekali. Banyak teman-teman saya yang benar-benar mirip dengan rakyat jelata. Tak beberapa lama saya duduk di depan b6, welcoming party di mulai. Kami dibariskan sesuai dengan kelompok PPA kemudian kami dipersilahkan masuk ke b6. Kami masuk ke b6 melewati sebuah gua kecil yang terbuat dari kertas semen yang tampak indah. Dan setelah sampai di B6. Waww mirip sekali dengan apa yang saya lihat ditelevisi. Lampun sorotnya begitu banyak dengan warnya yang terus berganti-ganti. Terdengar juga alunan musik yang kurang enak untuk didengar telinga saya.
Acara terus berlangsung, namun saya kurang menikmatinya karena tempat duduk begitu sempit. Pukul 23.30 saya dan Riska memohon izin kepada panitia PPA, untuk pulang terlebih dahulu. Mereka tidak mengizinkan namun kami tetap pulang.
Kami pulang melewat gerbang utama lagi sebab tampaknya lebih dekat lewat gerbang utama. Memang lebih dekat namun medannya sangat mengerikan. Gelap, banyak pohon besar danjalanya pun sepi, sempat tersiar kabar di sana juga ada penjarah. Terlebih dalam Perjanan pulang. Riska menceritakan bahwa disebelah pohon dekat gang ada kuburan. Wa saya takut. Kenapa Riska menceritakan itu. Aku bersepeda begitu lambat karena saya merasa lelah. Bahkan sepedanya lebih banyak  saya tuntun.
Tiba-tiba di gang dekat pohon . Riska memanggil saya” Ir,ir”. Spontan saya lari dengan menuntun sepeda saya. Saya tidak menoleh tinggalkan saja Riska saya sangat takut saat itu. Pasti terjadi sesuatu di belakang.  Riska memanggil saya lagi “ Ir, tunggu ban saya kempes”. Saya menoleh “haa?, kenapa tak bilang dari tadi oo”. Riska “ Kamu lari kok dipanggil bukannya mendekat”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar