Malam
itu setelah isya aku dan temanku Riska berangkat menuju kampus untuk mengikuti “Welcoming Party yang diadakan oleh
panitia PPA 2012. Kami para mahasiswa baru dianjurkan memakai pakaian layaknya
rakyat jelata.
Saya
dan Riska ke kempus naik sepeda, yang kami pinjam dari Asrama. Kami bersepeda
ke kampus lewat gerbang utama unnes. Perjalananya sungguh melelahkan. 10 menit
kira-kira saya sampai di gerbang utama unnes. Dan sesampainya disana, waw Astaghfirullah ternyata gerbangnya di kunci.
Kami bingung harus lewat mana. Balik lagi tidak mungkin. Aku berjalan sedikit
ke kanan. Dan Alhamdulillah ada jalan
kecil di sebelah gerbang utama. Akhirnya kami lewat melalui jalan itu. Sepeda
itu kami angkat karena jalan itu tak memungkinkan untuk kami lewati dengan
sepeda.
Setelah
itu kami langsung menuju B6 dengan tergesa-gesa. Setelah sampai di b6. Subahanallah ramai sekali. Banyak
teman-teman saya yang benar-benar mirip dengan rakyat jelata. Tak beberapa lama
saya duduk di depan b6, welcoming party
di mulai. Kami dibariskan sesuai dengan kelompok PPA kemudian kami
dipersilahkan masuk ke b6. Kami masuk ke b6 melewati sebuah gua kecil yang
terbuat dari kertas semen yang tampak indah. Dan setelah sampai di B6. Waww
mirip sekali dengan apa yang saya lihat ditelevisi. Lampun sorotnya begitu
banyak dengan warnya yang terus berganti-ganti. Terdengar juga alunan musik
yang kurang enak untuk didengar telinga saya.
Acara
terus berlangsung, namun saya kurang menikmatinya karena tempat duduk begitu
sempit. Pukul 23.30 saya dan Riska memohon izin kepada panitia PPA, untuk
pulang terlebih dahulu. Mereka tidak mengizinkan namun kami tetap pulang.
Kami
pulang melewat gerbang utama lagi sebab tampaknya lebih dekat lewat gerbang
utama. Memang lebih dekat namun medannya sangat mengerikan. Gelap, banyak pohon
besar danjalanya pun sepi, sempat tersiar kabar di sana juga ada penjarah.
Terlebih dalam Perjanan pulang. Riska menceritakan bahwa disebelah pohon dekat
gang ada kuburan. Wa saya takut. Kenapa Riska menceritakan itu. Aku bersepeda
begitu lambat karena saya merasa lelah. Bahkan sepedanya lebih banyak saya tuntun.
Tiba-tiba
di gang dekat pohon . Riska memanggil saya” Ir,ir”. Spontan saya lari dengan
menuntun sepeda saya. Saya tidak menoleh tinggalkan saja Riska saya sangat
takut saat itu. Pasti terjadi sesuatu di belakang. Riska memanggil saya lagi “ Ir, tunggu ban
saya kempes”. Saya menoleh “haa?, kenapa tak bilang dari tadi oo”. Riska “ Kamu
lari kok dipanggil bukannya mendekat”.