KETIKA RINDU TAK BERUJUNG
PENTAS GELAP
ADA CAHAYA REDUP DI
TENGAH PENTAS MENYINARI IZZAH
DI SEBELAH KANAN ADA
PERAHU KAYU, PENTAS BERLAYOUT PANTAI
SEORANG GADIS BERWAJAH
LESU DENGAN SENYUM DIPAKASAKAN BERJALAN TERSEOK-SEOK
MUSIK MOON FLOWER
KITARO
PENTAS TERANG
PELAN-PELAN
IZZAH BERJALAN
TERSEOK-SEOK KEMUDIAN TERJATUH.
IZZAH
Aku
beranikan diri menulis surat itu dengan keyakinan surat itu tersampaikan
padamu, di tempat yang sedang kau tuju. Aku di sini selalu dengan air mata
bukan karena aku menderita karena cinta kita belum bisa bersama di dunia, tapi
rasa syukur karena Dia masih memberi aku napas untuk menunggumu di sini,
satu-satunya lelaki yang aku bayangkan dan ku cintai”
IZZAH
MENCOBA KEMBALI BERDIRI DAN BERJALAN.
MUSIK
TIBA-TIBA
MUNCUL IBU IZZAH MENCARINYA.
CAHAYA BERKEDIP-KEDIP
IBU
Izzah (mengerjar Izzah)
IZZAH MENCOBA TERUS
MELANGKAH KEMUDIAN TERJATUH
IBU
Izzah (memeluk Izzah
dan menciumnya)
IZZAH
Sebentar lagi, Burhan
akan pulang Bu ( menangis )
ADINA
Izzah, ada surat dari
Burhan
SUARA
BURHAN
Izzah,
maafkan aku tidak memberitahukan kepergianku. Aku selalu menjaga cinta ini. Biar
dunia tak berpihak pada kita, tapi
berdoalah Izzah, kelak kita dipertemukan di surga-Nya. Dan aku baik-baik saja
di sini, semoga kau juga.
IZZAH
Yaa Allah, kuatkan
hamba (Surat terlepas dari tangan)
IBU
Izzah, Izzah
IBU
Izzah
ADINA
Inalillahi
wa ina illaihi raji’un
IBU
Izzah, jangan
tinggalkan aku, baru ibu menjumpaimu tapi kau pergi, kau kuat Izzah. Izzah
ADINA
Sabarlah Lik, ikhlaskan
Izzah
IBU
Ini salahku, tak
merestui cinta mereka. Aku ibu yang tidak berguna, Tuhan apa salahku?
ADINA
Lik, tenang Lik
CAHAYA BERKEDIP-KEDIP
SUARA PETIR
SUARA GENDERANG
IBU BERLARIAN,
BERPUTAR-PUTAR MENGAMBIL SEBILAH KAYU
IBU
Lebih baik aku mati
menyusul Izzah
IBU JATUH PERLAHAN
CAHAYA REDUP PERLAHAN
PENTAS GELAP
