Rabu, 05 Februari 2014

Ketika Rindu Tak Berujung

Naskah drama ini saya buat ketika saya mendapatkan tugas, mata kuliah ekspresi tulis sastra. Semoga dapat bermanfaat ^_^


KETIKA RINDU TAK BERUJUNG
PENTAS GELAP
ADA CAHAYA REDUP DI TENGAH PENTAS MENYINARI IZZAH
DI SEBELAH KANAN ADA PERAHU KAYU, PENTAS BERLAYOUT PANTAI
SEORANG GADIS BERWAJAH LESU DENGAN SENYUM DIPAKASAKAN BERJALAN TERSEOK-SEOK
MUSIK MOON FLOWER KITARO
PENTAS TERANG PELAN-PELAN
IZZAH BERJALAN TERSEOK-SEOK KEMUDIAN TERJATUH.
IZZAH
Aku beranikan diri menulis surat itu dengan keyakinan surat itu tersampaikan padamu, di tempat yang sedang kau tuju. Aku di sini selalu dengan air mata bukan karena aku menderita karena cinta kita belum bisa bersama di dunia, tapi rasa syukur karena Dia masih memberi aku napas untuk menunggumu di sini, satu-satunya lelaki yang aku bayangkan dan ku cintai”
IZZAH MENCOBA KEMBALI BERDIRI DAN BERJALAN.
MUSIK
TIBA-TIBA MUNCUL IBU IZZAH MENCARINYA.
CAHAYA BERKEDIP-KEDIP
IBU
 Izzah (mengerjar Izzah)

IZZAH MENCOBA TERUS MELANGKAH KEMUDIAN TERJATUH
IBU
Izzah (memeluk Izzah dan menciumnya)
IZZAH
Sebentar lagi, Burhan akan pulang Bu ( menangis )
ADINA
Izzah, ada surat dari Burhan
SUARA BURHAN
Izzah, maafkan aku tidak memberitahukan kepergianku. Aku selalu menjaga cinta ini. Biar dunia tak  berpihak pada kita, tapi berdoalah Izzah, kelak kita dipertemukan di surga-Nya. Dan aku baik-baik saja di sini, semoga kau juga.
IZZAH
Yaa Allah, kuatkan hamba (Surat terlepas dari tangan)
IBU
 Izzah, Izzah
IBU
 Izzah
ADINA
Inalillahi wa ina illaihi raji’un
IBU
Izzah, jangan tinggalkan aku, baru ibu menjumpaimu tapi kau pergi, kau kuat Izzah. Izzah
ADINA
Sabarlah Lik, ikhlaskan Izzah
IBU
Ini salahku, tak merestui cinta mereka. Aku ibu yang tidak berguna, Tuhan apa salahku?
ADINA
Lik, tenang Lik

CAHAYA BERKEDIP-KEDIP
SUARA PETIR
SUARA GENDERANG
IBU BERLARIAN, BERPUTAR-PUTAR MENGAMBIL SEBILAH KAYU
IBU
Lebih baik aku mati menyusul Izzah

IBU JATUH PERLAHAN
CAHAYA REDUP PERLAHAN
PENTAS GELAP


Tidak ada komentar:

Posting Komentar