Kamis, 27 Maret 2014

Pecahan Doa yang Ku Rangkai

Hari ini, kaki ini hendak pergi ke luar rumah.  melihat mereka
aku menangis, bukan lantaran kaki tak bisa menapakan ke dalam mobil mewah berbanderol selangit, tapi
aku menyesal sebab kaki ini tak selalu menjejaki tampat yang baik

Pagi ini, tangan, mata dan bibir hendak pergi ke luar rumah. Dan melihat mereka
dan aku menangis, bukan lantaran tak bisa menyentuh gadget baru yang super canggih, tapi
aku menyesal sebab tangan, mata dan bibir ini, terlalu arang menyentuh, melihat dan membaca kitab-Mu

Siang ini, tubuh ini hendak pergi ke luar rumah. Dan aku melihat mereka
dan aku menangis, bukan lantaran tubuh tak bisa memakai gaun yang indah dan super mahal dengan merek yang populer, tapi
aku menyesal sebab tubuh yang lalu,tak melindungi dirinya dengan sempurna, tidak menutupinya dengan semestinya.

Ini sudah malam, jiwa ini ingin ke luar rumah. Dan melihat mereka
dan aku masih menangis, bukan lantaran tak bisa merasakan indahnya malam mingguan pergi jalan-jalan dan makan-makan bersama kawan-kawan, tapi
aku menyesal , berapa banyak malam minggu yang lalu, lalu dan lalu yang ku sia-siakan dengan hal-hal yang tak perlu.

kini usia hampir 20 tahun
banyak sudah tangan ini mewarnai lautan dengan tinta kelam
banyak langit yang ku buat mendung
juga sungai yang ku buat keruh
dan sekarang ingin ku kembalikan
membuat lautan menjadi biru, langit yang putih dan sungai menjadi jernih
sempat aku menangis lagi, saat pendar matahari menghampiriku dan aku mematikan cahayanya dan ku ganti dengan gumpalan awan hitam
namun pagi ini aku benar-benar menangis, atas khilafku
atas umur yang tersia-siakan.
atas nikmat yang aku dustakan
atas waktu yang ku biarkan meleleh
            Wahai, Maha Cinta pemberi cinta
            aku menangis bersama doa-doa pecah yang terangkai,
            aku hanya tak ingin aku lebur dengan dunia

Banjarnegara, 11 Februari 2014

Kamis, 06 Maret 2014

Sekeping Cerita di Kalimasada




Sebelumnya tak pernah terpikir olehku. Menjadi bagian dalam barisan ini, barisan yang membuatku merasakan lebih kuat dan bahagia dari diriku sebelumnya. Banyak perubahan yang ku rasa pada diriku. Di sini ku dapatkan banyak tempaan, tekanan dan banyak proses  yang membuatku merasa lebih hidup. Memang setiap proses yang mantap akan menghasilkan sesuatu yang baik. Seperti proses terjadinya intan, ia harus dibuat dengan tekanan dan suhu yang tinggi agar ia menjadi intan yang indah dan berkilauan.
Desember 2012  adalah permulaan dari semuanya. Awal yang ku awali dengan langkah kecil ini, langkah untuk jalan cinta ini. Saat tangan kananku dan tangan kananmu menyatu. Tanganku digenggam erat olehmu, mbak-mbak kakak tingkat di kampusku. Mbak-mbak yang terlihat begitu anggun dengan pakaian takwanya, dengan kain panjang  yang terbalut di tubuhnya dengan rapi. Semburat senyum yang cantik selalu muncul ketika bertemu dengan wajahku. Itu awal semua hariku yang baru. Aku melihat iman di dalam diri mereka. Aku melihat ketaatan mereka. Melihat itu, dalam hatiku aku ingin menjadi bagian mereka. Mereka ingatkan diriku pada-Nya ketika aku lengah. Ada cahaya-Nya saat aku memandang mereka.
Mereka manusia-manusia baru yang ada dalam hidupku. Mereka menginspirasiku dan aku ingin bersama mereka. Mereka pun membawaku ke dalam sebuah keluarga baru, keluarga lain yang hanya ku temui di sini. Rohis Kalimasada. Yah, Kerohanian Islam Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang. Aku masuk rohis, untuk pertama kalinya.
Awal aku di jalan ini, aku hanya ingin mencoba rasanya berorganisasi, dan menjajal sesuatu yang baru yang belum pernah ku dapatkan sebelumnnya, namun ketika ku di sana aku temukan hal yang lebih dari itu, bukan hanya saya mengerti rasanya organisasi, syuro dan lain sebagainya. Tapi di sana ku temukan cinta, keluarga, amanah dan ukhuwah, tentunya empat hal tersebut  berbeda dari biasanya karena semuanya di dasarkan pada-Nya.
Bersua dengan punggawa lain di Kalimasada juga salah satu nikmat indah yang Allah berikan. Bagaimana tidak? Mereka adalah teman dan tim dalam jalan dakwah ini. Jalan yang insyaallah melanjutkan risalah Islam. Melakukan action agar Islam tetap dalam kemurniaanya dan mimpi saya tentunya, saya ingin Islam jaya kembali sebagai peradaban.
Memang di sini, bukan berarti kami orang-orang paling baik di antara semua manusia, karena mahluknya yang paling baik hanya Rasulullah Saw. Di sini kami sama, hanya saja kami saling mengingatkan ketika kami lupa dan terlena dengan dunia.
Dan sekarang sekarang aku sudah benar-benar merasakan cinta di jalan ini. Di jalan dakwahmu. Allah lah yang membawa kami ke dalam jalan ini. Terima kasih Allah, semoga kami bisa istikomah.