Hari ini, kaki ini hendak pergi ke luar rumah. melihat mereka
aku menangis, bukan lantaran kaki tak bisa menapakan ke dalam mobil mewah berbanderol selangit, tapi
aku menyesal sebab kaki ini tak selalu menjejaki tampat yang baik
Pagi ini, tangan, mata dan bibir hendak pergi ke luar rumah. Dan melihat mereka
dan aku menangis, bukan lantaran tak bisa menyentuh gadget baru yang super canggih, tapi
aku menyesal sebab tangan, mata dan bibir ini, terlalu arang menyentuh, melihat dan membaca kitab-Mu
Siang ini, tubuh ini hendak pergi ke luar rumah. Dan aku melihat mereka
dan aku menangis, bukan lantaran tubuh tak bisa memakai gaun yang indah dan super mahal dengan merek yang populer, tapi
aku menyesal sebab tubuh yang lalu,tak melindungi dirinya dengan sempurna, tidak menutupinya dengan semestinya.
Ini sudah malam, jiwa ini ingin ke luar rumah. Dan melihat mereka
dan aku masih menangis, bukan lantaran tak bisa merasakan indahnya malam mingguan pergi jalan-jalan dan makan-makan bersama kawan-kawan, tapi
aku menyesal , berapa banyak malam minggu yang lalu, lalu dan lalu yang ku sia-siakan dengan hal-hal yang tak perlu.
kini usia hampir 20 tahun
banyak sudah tangan ini mewarnai lautan dengan tinta kelam
banyak langit yang ku buat mendung
juga sungai yang ku buat keruh
dan sekarang ingin ku kembalikan
membuat lautan menjadi biru, langit yang putih dan sungai menjadi jernih
sempat aku menangis lagi, saat pendar matahari menghampiriku dan aku mematikan cahayanya dan ku ganti dengan gumpalan awan hitam
namun pagi ini aku benar-benar menangis, atas khilafku
atas umur yang tersia-siakan.
atas nikmat yang aku dustakan
atas waktu yang ku biarkan meleleh
Wahai, Maha Cinta pemberi cinta
aku menangis bersama doa-doa pecah yang terangkai,
aku hanya tak ingin aku lebur dengan dunia
Banjarnegara, 11 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar