Rabu, 15 Oktober 2014

Aku dan Jemari Lembut Sahabat Surgaku



Ketika jari-jari lembut itu menyentuhku
Kedua telapak tanganku dan kau menyatu
Membawa ruh baru
Jemarimu menghantarkan pesan bahagia
Pengahapus dosa dan lara

Kau memahamiku dengan cinta
Aku melihat Lembayung-Nya
ketika kau bertingkah
Aku melihat kasih-Nya
sengaja Ia titipkan di wajahmu

Ketika banyak manusia mencari ketulusan
Ku nikmati ketulusan melimpah
Aku bahagia dengan Din-Nya,
Berada dalam rute-Nya
Dan pertemuan denganmu, sahabat surgaku
Ukhuwah terbingkai dengan indah

Namun sahabatku, saat kepastian datang
Jasadku pergi dari sisimu
Saat temaram waktuku
Biar doa menjadi penyatu kita di surga
 Qobina13-LingkaranCinta^^




Minggu, 11 Mei 2014

Bingkisan Cinta untuk Bunda


Senja menyambut, warna kuning cahaya matahari bergabung dengan langit yang menggelap. Perpaduan warna yang begitu elok, sangat menyenangkan jika di pandang.
Dana kembali berjalan selangkah demi selangkah menyusuri jalan di sepanjang di Sampangan. Sembari berjalan ia menoleh ke kanan dan ke kiri dan ke depan. Ia berjalan, sesekali berhenti ketika ia menjumpai mall atau toko serba ada. Ia ragu, ia ingin masuk ke dalamnya tapi belum tahu apa yang akan ia beli.
Hari ini tanggal 27 Maret. Hari ini adalah hari ulang tahun ibu Dana yang ke-46. Dana sudah berjanji, kalau ia akan memberikan kado spesial untuk ibunya. Ia belum pernah sekalipun memberikan kado untuk ibunya. Sudah dari jauh hari Dana mengumpulkan uang untuk memberikan kado ibunya. Sampai hari ini tanggal 26 Maret ia mendapatkan uang Rp 300.000,00. Namun, Dana bingung, apa yang hendak ia berikan pada ibunya. Ia berjalan lagi tanpa tujuan.
Dana berhenti sejenak, ia memutuskan untuk duduk sebentar di halte. Ia agak lama duduk di sana, karena barangkali di haltle dapa memberikannya sebuah insprasi. Satu menit, dua menit, sampai setengah jam Dana masih bingung.
Banyak orang yang lalu lalang melewati halte itu, apalagi ini hari libur. Jadi kebanyakan orang berpergian untuk berwisata. Di antara lalu lalang orang-orang yang berjalan dan berkendara, Dana  melihat  seorang anak kecil sedang menangis tersedu. Bajunya kumal dan rambutnya acak-acakan dan ia tidak memakai alas kaki, kakinya begitu kelam dan kasar. Dana mencoba mendekatinya.
“ Dik, mengapa kau menangis?” tanya  Dana. Anak itu tetap menangis dan tidak menghiraukan pertanyaan Dana. “ Dik, namamu siapa?” sambung Dana lagi. Anak itu mulai mengangakat mukanya. Anak itu mengusap air matanya dengan tangan hitam berkuku panjang dan hitam. “ Aku, Indra kak, kalau kakak?” jawab Indra polos. “ Aku Dana, kalau boleh tahu mengapa adik menangis?”
Kemudian Indra menceritakan pada Dana. Indra menangis karena ia telah kehilangan uang. Indra diminta ibunya untuk pergi membelikan obat. Namun sekarang, uangnya hilang. Ia sudah mencari ke sana kemari namun tak jua ia temukan.
“Ibuku sedang sakit kak, dan uang itu untuk memberi obat untuk ibu, aku ingin ibu lekas sembuh” kata Indra. “ Memang ibumu sakit apa?” Dana penasaran. “ Ibu demam dan terus menggigil” jawab Indra. Mendengar cerita adik kecil itu Dana teringat akan ibunya.Dana tak bisa membayangkan jika ibu Dana sakit,.
Dana menyeka air matanya yang menetes di pipi, kemudian ia mengambil dompetnya di tas, ia mengeluarkan uang dari dompetnya. Ia mengulurkannya kepada Indra. Semula Indra menolak, namun Dana menyelipkan uangnya di saku Indra. “ Semoga ibumu lekas sembuh Indra, salam untuk ibumu” meninggalkan Indra.
Dalam perjalanan mencari kado Dana terus teringat Indra dan ibunya, betapa kasihan mereka. Dana pun terus mengucap syukur karena ia dan ibunya masih diberi nikmat sehat oleh Allah. Belum lama Dana berjalan, azan asar sudah berkumandang. Dana segera berjalan menuju Masjid terdekat. Setelah salat Dana kembali melanjutkan perjalanannya mencari kado untuk sang ibu tercinta.
Dana berjalan menuju ke paragon barangkali di sana ada sesuatu yang cocok untuk ibunya. Ia berjalan dengan langkah yang agak cepat karena hari sudah bertambah sore dan sebentar lagi malam. Tiba-tiba, bruuuuuuk , ia terjatuh karena ia terlalu cepat berjalan. Dana meringis kesakitan menahan laranya.
“ Kau tidak apa-apa?” kata seorang laki-laki sebaya dengan Dana sambil mengulurkan tangannya. “Tidak apa-apa hanya tersandung, hee..” jawab Dana malu-malu. “Oh, makanya lain kali hati-hati, sepertinya terburu-buru sekali mas?”. “Iya, saya ingin segera membelikan kado untuk ibu saya” Dana tersenyum. “Dan kau mau kemana?”. “Seperti yang kau lihat, aku sedang mengumpulkan botol-botol dan barang bekas yang dibuang orang-orang” jawab Si pemulung. “ Untuk, apa kau mengumpulakan itu?”
Itulah pekerjaan sampingan si pemulung kecil, mengumpulkan botol dan segala barang bekas untuk ia jual ke pengepul. Agar bisa jadi uang untuk uang saku sekolahnya dan membayar sedikit keperluan sekolah. Mendengar cerita si pemulung itu Dana semakin sedih, miris ia mendengarnya. Betapa banyak orang di luar sana yang kekurangan, namun mereka masih tegar. Sedang Dana kadang masih suka boros dengan membeli hal-hal yang tidak perlu.
 Dana mengambil tasnya lagi dan mengeluarkan dompetnya dan menarik selembar lagi dalam dompetnya uang Rp 100.000,00 kemudian ia berikan kepada si pemulung tadi. Pemulung tadi sangat berterima kasih pada Dana. Dana merasa sangat senang ia bisa membantu orang yang membutuhkan. Di perempatan jalan sebuah salam “Assalamu’alaykum” menjadi pemisah mereka.
Dana mengucapkan syukur Alhamdulillah, betapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan. Dana melanjutkan perjalanannya namun kali ini ia berjalan lambat dengan kaki yang terluka, ia menahan lukanya. Baginya luka itu hanya suatu yang kecil yang ia hadapi dibandingkan dua orang yang ia jumpai tadi.
Waktu semakin sore. Dana bingung, jika ia ke paragon mungkin ia akan sampai di rumah tengah malam. Uangnya pun sekarang tinggal Rp 100.000,00. Dana duduk sejenak sambil menghela napas sambil mengistirahatkan kakinya yang terluka. Belum beberapa lama ia duduk, tiba-tiba ide datang dari otaknya, setelah ia melihat toko buku di depannnya. Ia menuju sebuah toko buku. Dana mengambil sebuah Al-quran terjemahan kecil dengan sampul sangat cantik. Ia memutuskan untuk membeli Al-quran itu untuk ibunya. Kemudian ia segera pulang.

Pukul 02.30, setelah ibu Dana menunaikan salat tahajud, Dana menghampiri ibunya. Dana menyalami ibunya. Kemudian ia memberikan Al-quran dengan tanpa di bungkus seperti kado-kado semestinya. “Ibu, selamat ulang tahun, Dana cinta  ibu karena Allah”. Dengan air mata di matanya. “ Ibu Dana tersenyum sambil menangis “ini begitu istimewa anakku, dan semoga Allah mencintaimu Dana, karena Dana telah mencintai ibu karena Allah”.

Kamis, 27 Maret 2014

Pecahan Doa yang Ku Rangkai

Hari ini, kaki ini hendak pergi ke luar rumah.  melihat mereka
aku menangis, bukan lantaran kaki tak bisa menapakan ke dalam mobil mewah berbanderol selangit, tapi
aku menyesal sebab kaki ini tak selalu menjejaki tampat yang baik

Pagi ini, tangan, mata dan bibir hendak pergi ke luar rumah. Dan melihat mereka
dan aku menangis, bukan lantaran tak bisa menyentuh gadget baru yang super canggih, tapi
aku menyesal sebab tangan, mata dan bibir ini, terlalu arang menyentuh, melihat dan membaca kitab-Mu

Siang ini, tubuh ini hendak pergi ke luar rumah. Dan aku melihat mereka
dan aku menangis, bukan lantaran tubuh tak bisa memakai gaun yang indah dan super mahal dengan merek yang populer, tapi
aku menyesal sebab tubuh yang lalu,tak melindungi dirinya dengan sempurna, tidak menutupinya dengan semestinya.

Ini sudah malam, jiwa ini ingin ke luar rumah. Dan melihat mereka
dan aku masih menangis, bukan lantaran tak bisa merasakan indahnya malam mingguan pergi jalan-jalan dan makan-makan bersama kawan-kawan, tapi
aku menyesal , berapa banyak malam minggu yang lalu, lalu dan lalu yang ku sia-siakan dengan hal-hal yang tak perlu.

kini usia hampir 20 tahun
banyak sudah tangan ini mewarnai lautan dengan tinta kelam
banyak langit yang ku buat mendung
juga sungai yang ku buat keruh
dan sekarang ingin ku kembalikan
membuat lautan menjadi biru, langit yang putih dan sungai menjadi jernih
sempat aku menangis lagi, saat pendar matahari menghampiriku dan aku mematikan cahayanya dan ku ganti dengan gumpalan awan hitam
namun pagi ini aku benar-benar menangis, atas khilafku
atas umur yang tersia-siakan.
atas nikmat yang aku dustakan
atas waktu yang ku biarkan meleleh
            Wahai, Maha Cinta pemberi cinta
            aku menangis bersama doa-doa pecah yang terangkai,
            aku hanya tak ingin aku lebur dengan dunia

Banjarnegara, 11 Februari 2014

Kamis, 06 Maret 2014

Sekeping Cerita di Kalimasada




Sebelumnya tak pernah terpikir olehku. Menjadi bagian dalam barisan ini, barisan yang membuatku merasakan lebih kuat dan bahagia dari diriku sebelumnya. Banyak perubahan yang ku rasa pada diriku. Di sini ku dapatkan banyak tempaan, tekanan dan banyak proses  yang membuatku merasa lebih hidup. Memang setiap proses yang mantap akan menghasilkan sesuatu yang baik. Seperti proses terjadinya intan, ia harus dibuat dengan tekanan dan suhu yang tinggi agar ia menjadi intan yang indah dan berkilauan.
Desember 2012  adalah permulaan dari semuanya. Awal yang ku awali dengan langkah kecil ini, langkah untuk jalan cinta ini. Saat tangan kananku dan tangan kananmu menyatu. Tanganku digenggam erat olehmu, mbak-mbak kakak tingkat di kampusku. Mbak-mbak yang terlihat begitu anggun dengan pakaian takwanya, dengan kain panjang  yang terbalut di tubuhnya dengan rapi. Semburat senyum yang cantik selalu muncul ketika bertemu dengan wajahku. Itu awal semua hariku yang baru. Aku melihat iman di dalam diri mereka. Aku melihat ketaatan mereka. Melihat itu, dalam hatiku aku ingin menjadi bagian mereka. Mereka ingatkan diriku pada-Nya ketika aku lengah. Ada cahaya-Nya saat aku memandang mereka.
Mereka manusia-manusia baru yang ada dalam hidupku. Mereka menginspirasiku dan aku ingin bersama mereka. Mereka pun membawaku ke dalam sebuah keluarga baru, keluarga lain yang hanya ku temui di sini. Rohis Kalimasada. Yah, Kerohanian Islam Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang. Aku masuk rohis, untuk pertama kalinya.
Awal aku di jalan ini, aku hanya ingin mencoba rasanya berorganisasi, dan menjajal sesuatu yang baru yang belum pernah ku dapatkan sebelumnnya, namun ketika ku di sana aku temukan hal yang lebih dari itu, bukan hanya saya mengerti rasanya organisasi, syuro dan lain sebagainya. Tapi di sana ku temukan cinta, keluarga, amanah dan ukhuwah, tentunya empat hal tersebut  berbeda dari biasanya karena semuanya di dasarkan pada-Nya.
Bersua dengan punggawa lain di Kalimasada juga salah satu nikmat indah yang Allah berikan. Bagaimana tidak? Mereka adalah teman dan tim dalam jalan dakwah ini. Jalan yang insyaallah melanjutkan risalah Islam. Melakukan action agar Islam tetap dalam kemurniaanya dan mimpi saya tentunya, saya ingin Islam jaya kembali sebagai peradaban.
Memang di sini, bukan berarti kami orang-orang paling baik di antara semua manusia, karena mahluknya yang paling baik hanya Rasulullah Saw. Di sini kami sama, hanya saja kami saling mengingatkan ketika kami lupa dan terlena dengan dunia.
Dan sekarang sekarang aku sudah benar-benar merasakan cinta di jalan ini. Di jalan dakwahmu. Allah lah yang membawa kami ke dalam jalan ini. Terima kasih Allah, semoga kami bisa istikomah.

Rabu, 05 Februari 2014

Ketika Rindu Tak Berujung

Naskah drama ini saya buat ketika saya mendapatkan tugas, mata kuliah ekspresi tulis sastra. Semoga dapat bermanfaat ^_^


KETIKA RINDU TAK BERUJUNG
PENTAS GELAP
ADA CAHAYA REDUP DI TENGAH PENTAS MENYINARI IZZAH
DI SEBELAH KANAN ADA PERAHU KAYU, PENTAS BERLAYOUT PANTAI
SEORANG GADIS BERWAJAH LESU DENGAN SENYUM DIPAKASAKAN BERJALAN TERSEOK-SEOK
MUSIK MOON FLOWER KITARO
PENTAS TERANG PELAN-PELAN
IZZAH BERJALAN TERSEOK-SEOK KEMUDIAN TERJATUH.
IZZAH
Aku beranikan diri menulis surat itu dengan keyakinan surat itu tersampaikan padamu, di tempat yang sedang kau tuju. Aku di sini selalu dengan air mata bukan karena aku menderita karena cinta kita belum bisa bersama di dunia, tapi rasa syukur karena Dia masih memberi aku napas untuk menunggumu di sini, satu-satunya lelaki yang aku bayangkan dan ku cintai”
IZZAH MENCOBA KEMBALI BERDIRI DAN BERJALAN.
MUSIK
TIBA-TIBA MUNCUL IBU IZZAH MENCARINYA.
CAHAYA BERKEDIP-KEDIP
IBU
 Izzah (mengerjar Izzah)

IZZAH MENCOBA TERUS MELANGKAH KEMUDIAN TERJATUH
IBU
Izzah (memeluk Izzah dan menciumnya)
IZZAH
Sebentar lagi, Burhan akan pulang Bu ( menangis )
ADINA
Izzah, ada surat dari Burhan
SUARA BURHAN
Izzah, maafkan aku tidak memberitahukan kepergianku. Aku selalu menjaga cinta ini. Biar dunia tak  berpihak pada kita, tapi berdoalah Izzah, kelak kita dipertemukan di surga-Nya. Dan aku baik-baik saja di sini, semoga kau juga.
IZZAH
Yaa Allah, kuatkan hamba (Surat terlepas dari tangan)
IBU
 Izzah, Izzah
IBU
 Izzah
ADINA
Inalillahi wa ina illaihi raji’un
IBU
Izzah, jangan tinggalkan aku, baru ibu menjumpaimu tapi kau pergi, kau kuat Izzah. Izzah
ADINA
Sabarlah Lik, ikhlaskan Izzah
IBU
Ini salahku, tak merestui cinta mereka. Aku ibu yang tidak berguna, Tuhan apa salahku?
ADINA
Lik, tenang Lik

CAHAYA BERKEDIP-KEDIP
SUARA PETIR
SUARA GENDERANG
IBU BERLARIAN, BERPUTAR-PUTAR MENGAMBIL SEBILAH KAYU
IBU
Lebih baik aku mati menyusul Izzah

IBU JATUH PERLAHAN
CAHAYA REDUP PERLAHAN
PENTAS GELAP